Pina Behimat !

dive deep. roll hard. my dream, my wor(l)d.

what’s wrong with us?

lifeisartventure:

Kemarin tuh temen gue ada yang cerita kalo doi abis semacem diremehin gitu sama atasannya. Diremehin bidang pekerjaan dia. Temen gue juga seorang designer grafis. Cuma bedanya gue terdampar di creative fashion industry, sedangkan dia terdampar di sebuah…

View Post

1 + 1 = 11

seperti sepasang penari:

yang satu memimpin yang lainnya, untuk bergerak bersama. yang memimpin gerakan harus memperhatikan penari yang dipimpin. yang dipimpin harus waspada tanggap dan ikhlas dipimpin. bukan masalah siapa yang lebih hebat, tapi bagaimana bisa bekerjasama sehingga menjadi indah dan sinergis. yang dipimpin pun, sebenarnya memimpin dengan caranya; memimpin dengan cara membiarkan dirinya dipimpin.

seperti sepasang pelari:

pelari marathon dan sprinter yang harus mencapai garis finish bersama. pelari sprint harus sabar dan memperlambat pacu lari untuk menyamakannya dengan pelari marathon, pelari marathon harus sabar dan membantu pelari sprint untuk mengatur staminanya supaya tahan berlari jauh. tidak ada yang lebih hebat, tujuannya sampai di garis finish bersama dengan selamat dan efisien.

seperti sepasang kekasih:

semakin bertambah tua, kemampuan laki-laki untuk menerima suara dengan desibel yang tinggi melemah, dan sebaliknya untuk perempuan, semakin lanjut usia, kemampuannya untuk menerima suara berdesibel rendah kian berkurang.

Mungkin seharusnya saya harus bicara pada angin gersang, yang bisa saja menerbangkanmu, hilang. Bukan denganmu yang terus membiarkan rindu saya melayang.

tiwietty:

ini luka ini duka kenapa kamu menari nari?

ini luka ini duka kenapa kamu terbahak bahak

ini luka ini duka harusnya kamu tersedu sedu

ini luka ini duka..

Hari ini

Sekaleng bir dingin di bandara
Dan kamu yang pergi, baru saja.

You know what’s more painful than missing and remembering someone who’s passed away? Missing and remembering how someone used to be.

You understand the reason behind my silence, see the love behind my anger, mess behind the smiles — you’re perfect to me.

—@AdolphTwittler

Aku, yang malam ini tidur dengan kaos bersimbah air mata
Hanya karena aku menuntut peluk yang tak terkabul
Hanya karena tanda pesan baru yang tak juga muncul
Hanya karena jarak masih memukul

SADGENIC: Date a Girl Who Travels

nayamoeda:

written as a birthday gift for Puti & Dinda.

Date a girl who travels. Date a girl who spends her money on a summer road trip instead of fancy dresses. She lives her life adventurously, without fear; and both of you will live your love life as if you’re on a lazy…

Dancing in the water.

Dancing in the water.

Photo: Dwi Kurniawan
Location: Pandansimo Beach, Bantul, Yogyakarta

Rambutnya itu ketiup angin dari belakang, jadi keliatan jabrik semua. I love the black sands, crystal clear water and mega waves.

Photo: Dwi Kurniawan
Location: Pandansimo Beach, Bantul, Yogyakarta

Rambutnya itu ketiup angin dari belakang, jadi keliatan jabrik semua. I love the black sands, crystal clear water and mega waves.

I’m not jealous, I just wonder why did you choose her whilst you know no body could love you more than I do.

—@fatimaalkaff

Kita pernah membiarkan kejujuran melucuti pakaian kita. Menyibakkan ketelanjangan, mempertontonkan kemurnian. Lalu saling merengkuh dalam gelap dan sunyi, menerangi cinta kita sendiri.

Gerbang

Jutaan cerita dari jutaan orang yang pernah melewatinya dan jutaan hari yang pernah dilaluinya.

Kita pernah bergandengan tangan. Menyulam angan-angan berlibur di tanah impian. Singapore, Derawan.

Disana pula aku pernah melepasmu dengan pelukan. Mengantarmu pergi tanpa aku. Sendiri, sudah biasa.

Disana pula aku akan berdiri besok.

Aku takut meninggalkanmu, lebih takut dari aku ditinggalkanmu.

Mungkin karena ketika aku pergi, dan kamu pun pergi. Saat aku ingin kembali, kamu akan bilang “kamu meninggalkanku lebih dulu” padaku.

Di gerbang yang tiang-tiangnya dingin setelah dibiarkan telanjang semalaman
Di gerbang yang petugas jaganya dingin setelah datang pagi buta.

“Saya merindukanmu, dan bukan apa-apamu”

Dinihari itu, 9 Juli 2011 pukul 1.45 saya mengirimkan tweet di akun @hlgz dengan isi seperti judul di atas. Entah kenapa, kata-kata itu tercetus begitu saja di pikiran, dan langsung saya tuliskan. Setelah twit itu sukses berdesakan di linimasa, entah kenapa saya memikirkan arti dari kalimat tersebut, dan menemukan tiga interpretasi berbeda.

1. ‘Saya’ merindukan ‘kamu’ dan tidak merindukan ‘apa-apa’ dari ‘kamu’.
2. ‘Saya’ merindukan ‘kamu’ dan (saya) bukan apa-apamu.
3. ‘Saya’ merindukan ‘kamu’ dan sosok ‘kamu’ yang ‘bukan apa-apa’.

Apa ada yang bisa menemukan arti lain? :))

Hebat, bahwa kalimat sederhana begini saja bisa mencipta banyak arti. Itulah mengapa saya cinta bahasa.